3 Fakta Menarik Film Boheiman Rhapsody

Freddie Mercury pernah meramalkan seperti ini dalam bukunya,”Freddie Mercury: His Life in His Own Words”, yang kurang lebih isinya seperti ini, “I have visions of actually having a film made of my life story, one day, which I would have a key part in. I might not play the lead myself. My dears, the things I’ve done in my lifetime…it’ll be totally triple X-rated, I’ll tell you!

Adanya rating ini, dan memengaruhi tingkat seksualitas filmnya juga memengaruhi kelas penonton yang juga membuat aktor Sasha Baron Cohen pun tertarik. Meski pada akhirnya, Cohen tidak memerankan di film Boheiman Rhapsody yang masih sukses menghiasi bioskop-bioskop tanah air.

Film yang diputar sejak 31 Oktober itu sudah hampir sebulan tayang di bioskop. Film yang mengisahkan biopic dari Freddie Mercury ini sangat sukses mendulang penonton dari berbagai usia.

Film yang diperankan oleh Rami Malek sebagai Freddie Mercury ini dibuka dengan adegan perjalanan band Queen di dalam Roll Royce-nya pada suatu pagi menuju panggung Live Aid 1985, di stadion Wembley, Inggris.

Film biografi ini memang fokus pada sosok Mercury sebagai tokoh sentral band Queen. Padahal, dua band-mate Mercury yaitu gitaris Brian May dan drummer Roger Taylor yang masih hidup dan segar turut menjadi produser film garapan Bryan Singer tersebut, sehingga dominannya Freddie dalam film ini merupakan kelegaan hati terbesar dari rekan band-nya.

Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa ada beberapa fakta dalam film yang kurang sesuai dengan realitas dan sejarahnya.

Berikut beberapa di antaranya:

1. Versi film, masuknya Freddy Mercury ke band kelas kafe ‘Smile’ berlangsung instan dan cenderung ‘too good to be truth’.

Di film, ditunjukkan Mercury menggaet minat anggota Smile dengan cara mempertontonkan sebait lagu andalan band itu melalui sela-sela gigi tonggosnya.

Saat itu, Brian May (diperankan Gwilym Lee)-Roger Taylor (oleh Ben Hardy) sedang patah arang seketika setelah vokalis-basisnya yaitu Tim Staffel cabut dan bergabung dengan band bernama Humpy Bong.

Smile juga dinyatakan band pertama Freddy, setelah minat besar musik Mercury terpendam jauh di dasar hati sepanjang dia berprofesi sebagai anak bagasi di Bandara Heathrow.

Dunia nyata: Freddy bukan hanya fans Smile. Dia merupakan teman Staffel di kampus Ealing Art College dan kemudian kenal baik dengan anggota band yang lain.

Lambat laun, Staffel yang vokalis merangkap pemain gitar bas (basis) mengajak Freddie manggung dan sempat menjadi vokalis kedua.

Setelah Staffel keluar dari Smile, Freddie bersemangat untuk meneruskan formasi awal dan mengubah nama band menjadi Queen, hingga akhirnya nantinya menggaet John Deacon sebagai basis tetap.

Pada periode yang sama dengan lahirnya Queen, Freddie mengganti dan mempopulerkan nama belakangnya yang baru yaitu Mercury.

Karir Freddy di musik juga tidak memuncrat seketika melalui masuknya ke Smile.

Dia sudah sempat menyalurkan minat seninya itu melalui dua band. Sebut saja band asal Kota Liverpool yaitu Ibex yang nantinya berganti nama menjadi Wreckage, dan Sour Milk Sea. Keduanya tidak lama aktif dan bubar jalan.

2. Bersama dengan manajernya, Jim “Miami” Beach, John Reid, Paul Prenter, Queen bertemu seorang petinggi EMI, Ray Foster.

Ray yang tidak setuju Bohemian Rhapsody, dua kata ampuh yang dijadikan judul lagu yang akhirnya menjadi judul film ini, dijadikan single karena terlalu aneh dan terlalu panjang. Panjang lagu selama 6 menit itu dinilai tidak cocok diputar di radio, media pemutar musik utama saat itu.

Pertikaian terjadi. Queen kompak, bahkan terlalu kompak, memperjuangkan Boh-Rhap hingga Ray dan Queen setuju untuk tidak setuju.

Ray bahkan sempat menyebut, “Marked these words. No one will play Queen!”

Dunia nyata: Ray Foster, yang dibawakan sangat antagonis dan berkarakter oleh Mike Myers, adalah karakter fiktif.

Kemungkinan, karakter tersebut terinsipirasi oleh banyak pihak yang pernah menyangsikan dan menolak Queen serta Boh-Rhap.

3. Mercury adalah biang keladi pecahnya/vakumnya Queen demi mengerjakan proyek solo.

Mercury disebut tergiur dengan uang US$ 4 juta dari Studio CBS untuk berkarir solo.

Otomatis, penderita hyperdontia (kelainan gigi yang lebih banyak, dalam hal ini di bagian depan) tersebut menyudahi hubungannya dengan tiga teman band-nya dan pindah ke Munich untuk rekaman.

Dunia nyata: Roger Taylor merupakan anggota Queen pertama yang meluncurkan solo albumnya pada 1981 dengan judul Fun in Space.

Pada 1983, Taylor menerbitkan album solo kedua bernama Strange Frontier. Brian May menelurkan mini-album bernama Star Fleet Project dengan berkolaborasi dengan Eddie Van Halen.

Freddie sebetulnya sudah mencoba bersolo karier sejak 1972 dengan nama samaran Larry Lurex, bahkan berproyek bersama May dan Taylor.

Pada 1982 Mercury berkolaborasi dengan Morgan Fisher dan sejak 1985 ke depannya Mercury berkolaborasi dengan Mike Moran dan Spike Edney dalam proyek-proyek solonya.

Dua album Mercury di luar Queen adalah Mr. Bad Guy (1985) serta album dengan soprano Montserrat Caballé yang diberi judul Barcelona (1988) yang tak lepas dari pujian.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *